on Minggu, 14 Desember 2014


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang.
Filsafat sebagai pandangan hidup erat kaitannya dengan nilai tentang sesuatu yang dianggap benar. Filsafat sebagai pandangan hidup difungsikan sebagai tolak ukur bagi nilai-nilai tentang kebenaran yang harus dicapai. Untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat atau pandangan hidup dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui pendidikan. Filsafat hidup dalam hubungannya dengan sistem pendidikan bagaimana pun memiliki jalinan hubungan timbal balik. Filsafat hidup yang diyakini sebagai suatu yang dianggap benar pada tahap awal pada dasarnya merupakan suatu konsep pemikiran yang menjadi dasar dan tujuan yang di cita-citakan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut kemudian diusahakan agar nilai-nilai kebenaran yang terkandung didalamnya dikaitkan dengan berbagai kegiatan dan aspek kehidupan, diantaranya adalah pendidikan. Sistem pendidikan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang dicita-citakan itu pada hakikatnya tak mungkin terlepas dari keterkaitannya dengan ajaran islam itu sendiri. Sistem pendidikan islam baru dapat dinilai islami jika konsisten diwujudkan sesuai dengan konsep ajaran Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi dasar dan tujuan hidup muslim.
Pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai masalah hidup dan kehidupan manusia merupakan tantangan bagi manusia untuk menjawab. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan hakiki tersebut, akan menjadi dasar bagi pelaksanaan dan praktek pendidikan. Ketetapan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara tepat, dan hal ini akan mengarahkan usaha-usaha kependidikan yang tepat pula. Disinilah letak peranan
filsafat pendidikan islam.
1.2     Rumusan Masalah.
a)      Apa yang dimaksud dengan Filsafat?
b)      Apa yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan Islam?
c)      Apa saja Sumber-Sumber Pendidikan Islam?
d)     Bagaimana Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam?
e)      Bagaimana Ruang Lingkup Pendidikan Islam?


1.3     Tujuan Masalah.
a)      Memahami pengertian Filsafat.
b)      Mengetahui dan memahami pengertian Filsafat Pendidikan Islam.
c)      Mengetahui Sumbar-Sumber Pendidikan Islam.
d)     Mampu mengaplikasikan Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam.
e)      Memahami Ruang Lingkup Pendidikan Islam.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filsafat.
            Menurut Prof. Dr Harun Nasution Pengertian “Filsafat”  yaitu dari bahasa Yunani kuno “Philosophia” adalah (Philein) cinta, (Shopos) hikmah/wisdom. Secara terminologi filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
            Menurut Prof. Dr Hasan Langgulung filsafat adalah cinta hikmah (kebijaksanaan). Dan orang yang cinta hikmah kebijaksanaan selalu mencari dan meluangkan waktu untuk mencapainya, mempunyai sikap positif terhadapnya dan terhadap hakikat sesuatu, berusaha menghubungkan sebab-sebab dengan akibatnya, dan juga berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman kemanusiaan.
            Para ahli memberikan berbagai definisi Filsafat, yakni: Plato mengatakan bahwa Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada ( ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli ). Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Al-Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
 Filsafat adalah Ilmu pengetahuan yang memuat metode berfikir secara sistematis, kritis dan radikal yang menggali hakikat kebenaran.
2.2   Pengertian Filsafat Pendidikan Islam.
            Menurut Abdul Munir Mulkhan mengatakan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah usaha mencari asas-asas fundamental pendidikan islam. Filsafat pendidikan islam juga dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat islam.
            Menurut Zuhairini mengatakn bahwa filsafat pendidikan islam merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat islam, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat islam sehingga filsafat pendidikan islam bisa dikatakan lebih bersifat tradisional dan kritis, hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Imam Barnadib bahwa filsafat pendidikan itu mempunyai dua corak, yaitu corak filsafat tradisional dan corak filsafat yang kritis. Filsafat tradisional adalah filsafat  sebagaimana adanya, sistematika, jenis serta alirannya sebagaimana dijumpai dalam sejarah.
            Secara khusus filsafat pendidikan islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis, radikal, sistematis, dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidiakan.
            Adapun pandangan lain mengatakan bahwa filsafat pendidikan islam merupakan hasil pemikiran para filosof berdasarkan sumber yang berasal dari wahyu ilahi, sedangkan filsafat pendidikan lainnya berasal dari renungan (pemikiran) yang didasarkan atas kemampuan rasio. Hasil pemikiran yang bersumber dari wahyu bagaimana pun memiliki kebenaran yang mutlak, tidak tergantung kepada kondisi ruang dan waktu. Sebaliknya hasil pemikiran rasio, sangat tergantung kepada kondisi ruang dan waktu. Pemikiran tersebut hanya akan dinilai benar dalam kondisi tertentu dan dalam masa tertentu pula karena sifatnya spekulatif. Filsafat adalah cinta kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan yang sebenarnya adalah Tuhan. Oleh karena itu, cinta Tuhan adalah Filsafat yang sebenarnya (Roger Garaudy).
            keberadaan filsafat pendidikan islam yang pemikirannya bersumber dari wahyu dikutip oleh Muhammad Fadhil Al-Jamaly menyatakan:
“Apabila falsafat bermaksud mempelajari awal dan akhir dari segala masalah, hubungan dan ikatan antara manusia dan manusia dengan pencipta alam semesta, maka falsafat Al-Qur’an mencakup keseluruhan masalah tersebut. Selanjutnya bila pendidikan bermaksud membentuk dan mengembangkan kemampuan manusia sebagai individu, maka Al-Qur’an Al-Karim bermaksud mendidik semua makhluk. Mendidik semua makhluk berarti mendidik manusia... falsafat Al-Qur’an mengenai pendidikan lebih baik (dari yang lain) karena sifatnya yang lengkap dan padu, serta mengandung kemungkinan untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan” ( Al-Jamali,1981).
            Falsafat pendidikan islam yang bersumber dari wahyu, mengarah kepada pemikiran tentang kebenaran yang bersifat hakiki dan mutlak. Kebenaran yang sesungguhnya bukan kebenaran yang relatif dan spekulatif, tergantung kepada ruang dan waktu, seperti yang dihasilkan oleh pemikiran rasionalis dan empiris. Karena itu dalam pendidikan islam sebenarnya kata “falsafat” itu sendiri tidak dikenal. Menurut Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany yang dimaksud dengan kebenaran seperti yang dikehendaki falsafat itu dalam islam disebut ” hikmat (kebijaksanaan)” (Al-Syaibany, 1973).
            Kebenaran seperti yang dikemukakan oleh falsafat (umum) lebih berkonotasi kepada kemampuan daya nalar manusia, adapun hikmat bersifat ilahiyyat. Hikmat menurutnya, adalah anugrah Tuhan. Dan barang siapa yang diberi hikmat, maka ia telah diberikan kebaikan yang banyak (Q.2:269) merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah (Al-Syaibany, 1973).
            Pengertian falsafat seperti yang dikemukakan oleh Al-Syaibany tersebut, jika dikaitkan dengan filsafat pendidikan islam pada hakikatnya adalah pelaksanaan pandangan, falsafat dan kaidah falsafat islam yang diterapkan di bidang pendidikan, aktivitas pemikiran yang teratur selaras dan terpadu dalam upaya menjelaskan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai, bersumber dari anugrah Tuhan.
            Filsafat pendidikan islam seperti halnya filsafat pendidikan umum, juga harus mampu membuat suatu pedoman kepada perancang-perancang dan orang-orang dan bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran (Al-Syaibany, 1973).
2.3 Sumber-Sumber Filsafat Pendidikan Islam.
            a) Al-Qur’an.
            Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sempurna, sebagai agama yang sempurna, islam dengan kitab yang diwahyukan kepada utusannya dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup hingga akhir zaman. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan di akhirat, ibadah, penyerahan diri kepada Allah dan kebahagiaan hidup di dunia saja tetapi termasuk didalamnya mengatur tentang masalah pendidikan.
            Sebagai sumber ajaran, Al-Qur’an telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran, dalam Q.S Al-Baqarah:269 diterangkan sebagai berikut “ Allah menganugrahkan Al-Hikmah ( kepahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah ) kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ( dari Firman Allah)”.
            Dapat dilihat bahwa islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits telah menancapkan repolusi dibidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh Al-Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini diakui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyebrangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka. Dasar pelaksanaan pendidikan islam terutama adalah Al-Qur’an, Firman Allah: “ dan demikian kami wahyukan kepada wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami, sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar (Q.S Asy-Syura : 52).
            Pendidikan islam juga menjadi tinta emas ilmu yang mengangkat harkat dan martabat manusia menuju kebahagiaan yang hakiki. Sebagaimana dalam Q.S Al-Mujadalah:11 “...Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”.
b) As-Sunnah
Sunnah Rasul merupakan cermin dari segala tingkah laku Rasulullah SAW yang harus diteladani. Dan ini adalah salah satu alat pendidikan yang paling efektif dalam pembentukan pribadi muslim. Sunnah Rasululloah yang juga merupakan sumber pendidikan islam telah memberi sumbangan berupa perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup. Hadits Rasulullah SAW: “ sesungguhnya orang mukmin yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan (Al-Ghazali, Ihya-Ulumudin hal.90)”.



2.4 Pendekatan dalam Filsafat Pendidikan Islam.
            Menurut Harry Schofield sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Bernadib dalam bukunya filsafat Pendidikan, menekankan bahwa ada dua pendekatan dalam studi filsafat pendidikan yaitu:
            1). Pendekatan filsafat historis.
            Dengan pendekatan filsafat historis yaitu dengan cara melakukan deteksi dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli sepanjang sejarah. Dalam sejarahnya filsafat telah berkembang dalam bentuk sistematika, jenis-jenis dan aliran-aliran filsafat yang tertentu. Dari sekian jawaban tersebut, kemudian dipilih jawaban mana yang sesuai dan dibutuhkan. Dengan kita menganalisa sejarah perkembangan filsafat, khususnya filsafat pendidikan, maka kita akan melihat pemikiran-pemikiran filosof sebelumnya, yang kita ketahui banyak aliran-aliran yang timbul pada lapangan filsafat ini. Berbedanya pemikiran-pemikiran dari kalangan tokoh filsafat ini, lebih disebabkan oleh pandangan dan pijakan mereka terhadap pendidikan itu sendiri.
            2). Pendekatan dengan menggunakan filsafat kritis.
Adapun yang dimaksud dengan cara pendekatan filsafat kritis, dimaksudkan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan diusahakan jawabannya secara filosofis pula dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan filosofis:
·         Analisa bahasa linguistik.
Analisa bahasa adalah sesuatu usaha mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat-pendapat mengenai makna yang dimilikinya. Tanpa adanya analisa linguistik atau bahasa, akan sulit bagi kita untuk mencerna maksud dan tujuan dari teori-teori ataupun pemikiran-pemikiran filosof sebelum kita.
·         Analisa konsep.
Analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah-istilah yang mewakili gagasan atau konsep.
Menurut Zuhairini dkk mengatakan bahwa metode atau pendekatan yang dipakai filsafat pendidikan islam dalam memecahkan persoalan-persoalan pendidikan adalah:
·         Metode spekulatif dan kontemplatif, yang merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Kontemplatif atau tafakur adalah berfikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang dipikirkan. Maka ia berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Misalnya hakikat hidup menurut islam, hakikat iman, islam, sifat Tuhan, Taqdir, malaikat dan sebagainya.
·         Pendekatan normatif, maksudnya adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata dalam filsafat islam, yang biasa disebut sebagai pendekatan Syari’yyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut syariat islam. Metode Ijtihad dalam fiqih seperti Ihtisan, Maslahah Mursalah, Al-adah Muhakamah adalah merupakan contoh-contoh metode normatif ini dalam sistem filsafat islam.
·         Pendekatan analisa konsep, disebut juga pendekatan analisa bahasa yang menjadi bahan analisa adalah Nash-Nash Al-Qur’an maupun Hadits Nabi.
·         Pendekatan historis, pendekatan ini dilakukan dengan cara mengambil pelajaran dari peristiwa dan kejadian di masa lalu. Penggunaan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber hukum dan penelitian Hadits-Hadits yang menghasilkan pemisahan antara Hadits palsu dan Hadits shahih pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari penggunaan analisis historis dalam filsafat pendidikan islam.
·         Pendekatan ilmiah, merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berfikir rasional, empiris, dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam islam.
·         Pendekatan komprehensif dan terpadu, pendekatan ini memadukan antara sumber naqli, aqli dan imani sebagaimana yang dikembangkan oleh Al-Ghazali.
2.5 Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam.
            Pendidikan secara umum dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Bagaimana pun sederhananya peradaban manusia didalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. kualifikasi islam untuk pendidikan memberikan kejelasan bentuk konseptualnya. Pembentukan kepribadian yang dimaksud adalah sebagai hasil pandidikan adalah kepribadian muslim, dan kemajuan masyarakat dan budaya yang tidak menyimpang dari ajaran islam.
            Dalam kaitan itu untuk menggali, menyusun dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan, teutama pendidikan islam tentunya perlu mengikuti pola dan sistem pemikiran kefilsafatan pada umumnya. Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah:
·         Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis dalam arti bahwa cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan secara bulat dan terpadu.
·         Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal, artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai keakar-akarnya.
·         Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini.
·         Meskipun pemikiran dilakukan bersifat spekulatif artinya pemikiran yang tidak didasari pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental, akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif.
Pola dan sistem berpikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut:
·         Kosmologi.
Suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
·         Ontologi.
Suatu pemikiran tentang asal usul tentang kejadian alam semesta, darimana dan kearah mana proses kejadiannya.
·         Philosophy of mind.
Pemikiran filosofis tentang jiwa dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana tentang kebebasan berkehendak dari manusia (free will).
·         Epistimologi.
Pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran (aliran rasionalisme) atau dari pengalaman panca indera (aliran empirisme) atau dari ide-ide (aliran idealisme) atau dari Tuhan (aliran theologisme). Juga pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai dimana kebenaran pengetahuan kita. Hal ini menimbulkan paham seperti idealisme yang beranggapan bahwa kebenaran itu terletak kepada kenyataan yang ada (realitas). Juga paham pragmatisme bahwa kebenaran itu terletak pada kemanfaatan bukan pada ide atau realitasnya.
·         Aksiologi.
Suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai dari Tuhan. Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan (estetika). Aksiologi ini mengandung pengertian lebih luas dari pada etika atau nilai-nilai kehidupan yang bertaraf lebih tinggi.
            Dengan demikian maka filsafat pendidikan islam mempunyai sasaran pembahasan tentang hakikat permasalahan pendidikan yang bersumberkan ajaran islam, maka pola dan sistem berfikir serta ruang lingkupnya permasalahan yang dibahas harus bertitik tolak dari pandangan Islam. Ruang lingkup pemikirannya bukanlah mengenai hal-hal yang bersifat teknis operasional pendidikan, melainkan menyangkut segala hal yang mendasari serta yang mewarnai corak sistem pemikiran yang disebut “falsafa” itu.
            Filafat pendidikan islam yang kita kehendaki adalah suatu pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu dan logis, menyeluruh serta universal yang ter tuang dalam bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai sesuatu sistem.











BAB III
KESIMPULAN

Filsafat adalah cinta hikmah (kebijaksanaan). Dan orang yang cinta hikmah kebijaksanaan selalu mencari dan meluangkan waktu untuk mencapainya, mempunyai sikap positif terhadapnya dan terhadap hakikat sesuatu, berusaha menghubungkan sebab-sebab dengan akibatnya, dan juga berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman kemanusiaan.
Filsafat Pendidikan Islam adalah usaha mencari asas-asas fundamental pendidikan islam. Filsafat pendidikan islam juga dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat islam.
 Sebagai sumber ajaran, Al-Qur’an telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran, dalam Q.S Al-Baqarah:269 diterangkan sebagai berikut “ Allah menganugrahkan Al-Hikmah ( kepahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah ) kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ( dari Firman Allah)”. Juga Sunnah Rasul merupakan cermin dari segala tingkah laku Rasulullah SAW yang harus diteladani. Dan ini adalah salah satu alat pendidikan yang paling efektif dalam pembentukan pribadi muslim.
Menurut Zuhairini dkk mengatakan bahwa metode atau pendekatan yang dipakai filsafat pendidikan islam dalam memecahkan persoalan-persoalan pendidikan adalah: Metode spekulatif dan kontemplatif, Pendekatan normatif, Pendekatan analisa konsep, Pendekatan ilmiah, Pendekatan komprehensif dan terpadu.

Ruang lingkup pemikiran filsafat pendidikan islam bukanlah mengenai hal-hal yang bersifat teknis operasional pendidikan, melainkan menyangkut segala hal yang mendasari serta yang mewarnai corak sistem pemikiran yang disebut “falsafa” itu.


DAFTAR PUSTAKA

Aziz, abdul., M.Pd.I. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: TERAS
Jalaludin, Dr. & Said, Usman, Drs. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
Zuhairini, Dra., dkk. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Hamdani Ihsan, H., Drs., & A. Fuad Ihsan, H., Drs. 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia
Widodokembar.blogspot.com






           

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog