BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang.
Filsafat
sebagai pandangan hidup erat kaitannya dengan nilai tentang sesuatu yang
dianggap benar. Filsafat sebagai pandangan hidup difungsikan sebagai tolak ukur
bagi nilai-nilai tentang kebenaran yang harus dicapai. Untuk mewujudkan
nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat atau pandangan hidup dilakukan
dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui pendidikan. Filsafat hidup
dalam hubungannya dengan sistem pendidikan bagaimana pun memiliki jalinan
hubungan timbal balik. Filsafat hidup yang diyakini sebagai suatu yang dianggap
benar pada tahap awal pada dasarnya merupakan suatu konsep pemikiran yang
menjadi dasar dan tujuan yang di cita-citakan. Untuk mewujudkan cita-cita
tersebut kemudian diusahakan agar nilai-nilai kebenaran yang terkandung
didalamnya dikaitkan dengan berbagai kegiatan dan aspek kehidupan, diantaranya
adalah pendidikan. Sistem pendidikan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang
dicita-citakan itu pada hakikatnya tak mungkin terlepas dari keterkaitannya
dengan ajaran islam itu sendiri. Sistem pendidikan islam baru dapat dinilai
islami jika konsisten diwujudkan sesuai dengan konsep ajaran Al-Qur’an dan
Hadits yang menjadi dasar dan tujuan hidup muslim.
Pertanyaan-pertanyaan
tentang berbagai masalah hidup dan kehidupan manusia merupakan tantangan bagi
manusia untuk menjawab. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan hakiki tersebut,
akan menjadi dasar bagi pelaksanaan dan praktek pendidikan. Ketetapan jawaban
pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mampu merumuskan tujuan pendidikan secara
tepat, dan hal ini akan mengarahkan usaha-usaha kependidikan yang tepat pula.
Disinilah letak peranan
filsafat pendidikan islam.
1.2
Rumusan
Masalah.
a) Apa
yang dimaksud dengan Filsafat?
b) Apa
yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan Islam?
c) Apa
saja Sumber-Sumber Pendidikan Islam?
d) Bagaimana
Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam?
e) Bagaimana
Ruang Lingkup Pendidikan Islam?
1.3
Tujuan
Masalah.
a) Memahami
pengertian Filsafat.
b) Mengetahui
dan memahami pengertian Filsafat Pendidikan Islam.
c) Mengetahui
Sumbar-Sumber Pendidikan Islam.
d) Mampu
mengaplikasikan Pendekatan Filsafat Pendidikan Islam.
e) Memahami
Ruang Lingkup Pendidikan Islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filsafat.
Menurut
Prof. Dr Harun Nasution Pengertian “Filsafat” yaitu dari bahasa Yunani kuno “Philosophia” adalah (Philein) cinta, (Shopos) hikmah/wisdom. Secara terminologi filsafat adalah berfikir
menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi dogma dan
agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.
Menurut
Prof. Dr Hasan Langgulung filsafat adalah cinta hikmah (kebijaksanaan). Dan
orang yang cinta hikmah kebijaksanaan selalu mencari dan meluangkan waktu untuk
mencapainya, mempunyai sikap positif terhadapnya dan terhadap hakikat sesuatu,
berusaha menghubungkan sebab-sebab dengan akibatnya, dan juga berusaha
menafsirkan pengalaman-pengalaman kemanusiaan.
Para ahli memberikan berbagai
definisi Filsafat, yakni: Plato mengatakan
bahwa Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada ( ilmu pengetahuan
yang berminat mencapai kebenaran yang asli ). Aristoteles mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
meliputi kebenaran, yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika,
retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Al-Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang
alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
Filsafat adalah Ilmu pengetahuan yang memuat
metode berfikir secara sistematis, kritis dan radikal yang menggali hakikat
kebenaran.
2.2 Pengertian Filsafat Pendidikan Islam.
Menurut
Abdul Munir Mulkhan mengatakan bahwa
Filsafat Pendidikan Islam adalah usaha mencari asas-asas fundamental pendidikan
islam. Filsafat pendidikan islam juga dapat diartikan sebagai studi tentang
pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap
masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan manusia muslim dan umat islam.
Menurut Zuhairini mengatakn bahwa filsafat pendidikan islam merupakan studi
tentang penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat islam dalam
memecahkan problematika pendidikan umat islam, dan selanjutnya memberikan arah
dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat islam sehingga
filsafat pendidikan islam bisa dikatakan lebih bersifat tradisional dan kritis,
hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Imam Barnadib bahwa filsafat pendidikan itu mempunyai dua corak,
yaitu corak filsafat tradisional dan corak filsafat yang kritis. Filsafat
tradisional adalah filsafat sebagaimana
adanya, sistematika, jenis serta alirannya sebagaimana dijumpai dalam sejarah.
Secara khusus filsafat pendidikan
islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara
kritis, radikal, sistematis, dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan
mengenai hakikat pendidiakan.
Adapun pandangan lain mengatakan
bahwa filsafat pendidikan islam merupakan hasil pemikiran para filosof berdasarkan
sumber yang berasal dari wahyu ilahi, sedangkan filsafat pendidikan lainnya
berasal dari renungan (pemikiran) yang didasarkan atas kemampuan rasio. Hasil pemikiran
yang bersumber dari wahyu bagaimana pun memiliki kebenaran yang mutlak, tidak tergantung
kepada kondisi ruang dan waktu. Sebaliknya hasil pemikiran rasio, sangat
tergantung kepada kondisi ruang dan waktu. Pemikiran tersebut hanya akan
dinilai benar dalam kondisi tertentu dan dalam masa tertentu pula karena
sifatnya spekulatif. Filsafat adalah cinta kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan
yang sebenarnya adalah Tuhan. Oleh karena itu, cinta Tuhan adalah Filsafat yang
sebenarnya (Roger Garaudy).
keberadaan filsafat pendidikan islam
yang pemikirannya bersumber dari wahyu dikutip oleh Muhammad Fadhil Al-Jamaly
menyatakan:
“Apabila
falsafat bermaksud mempelajari awal dan akhir dari segala masalah, hubungan dan
ikatan antara manusia dan manusia dengan pencipta alam semesta, maka falsafat
Al-Qur’an mencakup keseluruhan masalah tersebut. Selanjutnya bila pendidikan
bermaksud membentuk dan mengembangkan kemampuan manusia sebagai individu, maka
Al-Qur’an Al-Karim bermaksud mendidik semua makhluk. Mendidik semua makhluk
berarti mendidik manusia... falsafat Al-Qur’an mengenai pendidikan lebih baik (dari
yang lain) karena sifatnya yang lengkap dan padu, serta mengandung kemungkinan
untuk mengantisipasi perkembangan dan perubahan” ( Al-Jamali,1981).
Falsafat pendidikan islam yang
bersumber dari wahyu, mengarah kepada pemikiran tentang kebenaran yang bersifat
hakiki dan mutlak. Kebenaran yang sesungguhnya bukan kebenaran yang relatif dan
spekulatif, tergantung kepada ruang dan waktu, seperti yang dihasilkan oleh
pemikiran rasionalis dan empiris. Karena itu dalam pendidikan islam sebenarnya
kata “falsafat” itu sendiri tidak dikenal. Menurut Omar Muhammad Al-Toumy
Al-Syaibany yang dimaksud dengan kebenaran seperti yang dikehendaki falsafat
itu dalam islam disebut ” hikmat (kebijaksanaan)” (Al-Syaibany, 1973).
Kebenaran seperti yang dikemukakan
oleh falsafat (umum) lebih berkonotasi kepada kemampuan daya nalar manusia,
adapun hikmat bersifat ilahiyyat. Hikmat menurutnya, adalah anugrah Tuhan. Dan
barang siapa yang diberi hikmat, maka ia telah diberikan kebaikan yang banyak
(Q.2:269) merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah (Al-Syaibany, 1973).
Pengertian falsafat seperti yang
dikemukakan oleh Al-Syaibany tersebut, jika dikaitkan dengan filsafat
pendidikan islam pada hakikatnya adalah pelaksanaan pandangan, falsafat dan
kaidah falsafat islam yang diterapkan di bidang pendidikan, aktivitas pemikiran
yang teratur selaras dan terpadu dalam upaya menjelaskan nilai-nilai dan tujuan
yang hendak dicapai, bersumber dari anugrah Tuhan.
Filsafat pendidikan islam seperti
halnya filsafat pendidikan umum, juga harus mampu membuat suatu pedoman kepada
perancang-perancang dan orang-orang dan bekerja dalam bidang pendidikan dan
pengajaran (Al-Syaibany, 1973).
2.3 Sumber-Sumber Filsafat
Pendidikan Islam.
a)
Al-Qur’an.
Islam adalah agama yang memiliki
ajaran yang sempurna, sebagai agama yang sempurna, islam dengan kitab yang
diwahyukan kepada utusannya dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup hingga
akhir zaman. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan di
akhirat, ibadah, penyerahan diri kepada Allah dan kebahagiaan hidup di dunia
saja tetapi termasuk didalamnya mengatur tentang masalah pendidikan.
Sebagai sumber ajaran, Al-Qur’an
telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar
terhadap masalah pendidikan dan pengajaran, dalam Q.S Al-Baqarah:269
diterangkan sebagai berikut “ Allah menganugrahkan Al-Hikmah ( kepahaman yang
mendalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunah ) kepada siapa yang dikehendakinya. Dan
barang siapa yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia
yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran ( dari Firman Allah)”.
Dapat dilihat bahwa islam sebagai
agama yang ajaran-ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits telah
menancapkan repolusi dibidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh
Al-Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan
manusia. Kini diakui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang
menyebrangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan
menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka. Dasar pelaksanaan
pendidikan islam terutama adalah Al-Qur’an, Firman Allah: “ dan demikian kami
wahyukan kepada wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami, sebelumnya kamu
tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu
cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar (Q.S Asy-Syura : 52).
Pendidikan islam juga menjadi tinta
emas ilmu yang mengangkat harkat dan martabat manusia menuju kebahagiaan yang
hakiki. Sebagaimana dalam Q.S Al-Mujadalah:11 “...Allah akan mengangkat derajat
orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa
derajat”.
b) As-Sunnah
Sunnah
Rasul merupakan cermin dari segala tingkah laku Rasulullah SAW yang harus
diteladani. Dan ini adalah salah satu alat pendidikan yang paling efektif dalam
pembentukan pribadi muslim. Sunnah Rasululloah yang juga merupakan sumber
pendidikan islam telah memberi sumbangan berupa perhatian yang amat besar
terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW telah mencanangkan program
pendidikan seumur hidup. Hadits Rasulullah SAW: “ sesungguhnya orang mukmin
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya
serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh
kemenangan (Al-Ghazali, Ihya-Ulumudin hal.90)”.
2.4 Pendekatan dalam Filsafat
Pendidikan Islam.
Menurut
Harry Schofield sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Bernadib dalam bukunya
filsafat Pendidikan, menekankan bahwa ada dua pendekatan dalam studi filsafat
pendidikan yaitu:
1). Pendekatan filsafat historis.
Dengan pendekatan filsafat historis
yaitu dengan cara melakukan deteksi dari pertanyaan-pertanyaan filosofis yang
diajukan, mana-mana yang telah mendapat jawaban dari para ahli sepanjang
sejarah. Dalam sejarahnya filsafat telah berkembang dalam bentuk sistematika,
jenis-jenis dan aliran-aliran filsafat yang tertentu. Dari sekian jawaban
tersebut, kemudian dipilih jawaban mana yang sesuai dan dibutuhkan. Dengan kita
menganalisa sejarah perkembangan filsafat, khususnya filsafat pendidikan, maka
kita akan melihat pemikiran-pemikiran filosof sebelumnya, yang kita ketahui
banyak aliran-aliran yang timbul pada lapangan filsafat ini. Berbedanya
pemikiran-pemikiran dari kalangan tokoh filsafat ini, lebih disebabkan oleh
pandangan dan pijakan mereka terhadap pendidikan itu sendiri.
2). Pendekatan dengan menggunakan
filsafat kritis.
Adapun
yang dimaksud dengan cara pendekatan filsafat kritis, dimaksudkan dengan cara
mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis dan diusahakan jawabannya secara
filosofis pula dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan filosofis:
·
Analisa bahasa
linguistik.
Analisa bahasa adalah
sesuatu usaha mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat-pendapat
mengenai makna yang dimilikinya. Tanpa adanya analisa linguistik atau bahasa,
akan sulit bagi kita untuk mencerna maksud dan tujuan dari teori-teori ataupun
pemikiran-pemikiran filosof sebelum kita.
·
Analisa konsep.
Analisa konsep adalah
suatu analisa mengenai istilah-istilah yang mewakili gagasan atau konsep.
Menurut
Zuhairini dkk mengatakan bahwa metode atau pendekatan yang dipakai filsafat
pendidikan islam dalam memecahkan persoalan-persoalan pendidikan adalah:
·
Metode
spekulatif dan kontemplatif, yang merupakan metode utama dalam setiap cabang
filsafat. Kontemplatif atau tafakur adalah berfikir secara mendalam dan dalam
situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu
yang dipikirkan. Maka ia berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Misalnya
hakikat hidup menurut islam, hakikat iman, islam, sifat Tuhan, Taqdir, malaikat
dan sebagainya.
·
Pendekatan
normatif, maksudnya adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan
nyata dalam filsafat islam, yang biasa disebut sebagai pendekatan Syari’yyah, yaitu mencari ketentuan dan
menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut
syariat islam. Metode Ijtihad dalam fiqih seperti Ihtisan, Maslahah Mursalah,
Al-adah Muhakamah adalah merupakan contoh-contoh metode normatif ini dalam
sistem filsafat islam.
·
Pendekatan
analisa konsep, disebut juga pendekatan analisa bahasa yang menjadi bahan
analisa adalah Nash-Nash Al-Qur’an maupun Hadits Nabi.
·
Pendekatan
historis, pendekatan ini dilakukan dengan cara mengambil pelajaran dari
peristiwa dan kejadian di masa lalu. Penggunaan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber
hukum dan penelitian Hadits-Hadits yang menghasilkan pemisahan antara Hadits
palsu dan Hadits shahih pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari penggunaan
analisis historis dalam filsafat pendidikan islam.
·
Pendekatan
ilmiah, merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berfikir rasional,
empiris, dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat
dalam islam.
·
Pendekatan
komprehensif dan terpadu, pendekatan ini memadukan antara sumber naqli, aqli
dan imani sebagaimana yang dikembangkan oleh Al-Ghazali.
2.5 Ruang Lingkup Filsafat
Pendidikan Islam.
Pendidikan
secara umum dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya
sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan. Bagaimana pun
sederhananya peradaban manusia didalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses
pendidikan. kualifikasi islam untuk pendidikan memberikan kejelasan bentuk
konseptualnya. Pembentukan kepribadian yang dimaksud adalah sebagai hasil
pandidikan adalah kepribadian muslim, dan kemajuan masyarakat dan budaya yang
tidak menyimpang dari ajaran islam.
Dalam kaitan itu untuk menggali,
menyusun dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan, teutama
pendidikan islam tentunya perlu mengikuti pola dan sistem pemikiran
kefilsafatan pada umumnya. Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai
suatu ilmu adalah:
·
Pemikiran
kefilsafatan harus bersifat sistematis dalam arti bahwa cara berpikirnya
bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi. Hasil
pemikirannya tersusun secara sistematis artinya satu bagian dengan bagian lainnya
saling berhubungan secara bulat dan terpadu.
·
Tinjauan
terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal, artinya menyangkut
persoalan-persoalan mendasar sampai keakar-akarnya.
·
Ruang lingkup
pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang dipikirkan
mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis
dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini.
·
Meskipun
pemikiran dilakukan bersifat spekulatif artinya pemikiran yang tidak didasari
pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental, akan tetapi mengandung
nilai-nilai obyektif.
Pola dan sistem
berpikir filosofis dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut
bidang-bidang sebagai berikut:
·
Kosmologi.
Suatu pemikiran dalam
permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan
hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan
hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
·
Ontologi.
Suatu pemikiran tentang
asal usul tentang kejadian alam semesta, darimana dan kearah mana proses
kejadiannya.
·
Philosophy of
mind.
Pemikiran filosofis
tentang jiwa dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana tentang
kebebasan berkehendak dari manusia (free
will).
·
Epistimologi.
Pemikiran tentang apa
dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran
(aliran rasionalisme) atau dari pengalaman panca indera (aliran empirisme) atau
dari ide-ide (aliran idealisme) atau dari Tuhan (aliran theologisme). Juga
pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai dimana
kebenaran pengetahuan kita. Hal ini menimbulkan paham seperti idealisme yang
beranggapan bahwa kebenaran itu terletak kepada kenyataan yang ada (realitas).
Juga paham pragmatisme bahwa kebenaran itu terletak pada kemanfaatan bukan pada
ide atau realitasnya.
·
Aksiologi.
Suatu pemikiran tentang
masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai dari Tuhan. Misalnya nilai moral,
nilai agama, nilai keindahan (estetika). Aksiologi ini mengandung pengertian
lebih luas dari pada etika atau nilai-nilai kehidupan yang bertaraf lebih
tinggi.
Dengan
demikian maka filsafat pendidikan islam mempunyai sasaran pembahasan tentang
hakikat permasalahan pendidikan yang bersumberkan ajaran islam, maka pola dan
sistem berfikir serta ruang lingkupnya permasalahan yang dibahas harus bertitik
tolak dari pandangan Islam. Ruang lingkup pemikirannya bukanlah mengenai
hal-hal yang bersifat teknis operasional pendidikan, melainkan menyangkut
segala hal yang mendasari serta yang mewarnai corak sistem pemikiran yang
disebut “falsafa” itu.
Filafat
pendidikan islam yang kita kehendaki adalah suatu pemikiran yang serba
mendalam, mendasar, sistematis, terpadu dan logis, menyeluruh serta universal
yang ter tuang dalam bentuk pemikiran atau konsepsi sebagai sesuatu sistem.
BAB
III
KESIMPULAN
Filsafat
adalah cinta hikmah (kebijaksanaan). Dan orang yang cinta hikmah kebijaksanaan
selalu mencari dan meluangkan waktu untuk mencapainya, mempunyai sikap positif
terhadapnya dan terhadap hakikat sesuatu, berusaha menghubungkan sebab-sebab
dengan akibatnya, dan juga berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman
kemanusiaan.
Filsafat
Pendidikan Islam adalah usaha mencari asas-asas fundamental pendidikan islam.
Filsafat pendidikan islam juga dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan
filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap masalah-masalah
kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
manusia muslim dan umat islam.
Sebagai sumber ajaran, Al-Qur’an telah
dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap
masalah pendidikan dan pengajaran, dalam Q.S Al-Baqarah:269 diterangkan sebagai
berikut “ Allah menganugrahkan Al-Hikmah ( kepahaman yang mendalam tentang
Al-Qur’an dan As-Sunah ) kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barang siapa
yang dianugrahi hikmah, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.
Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ( dari
Firman Allah)”. Juga Sunnah Rasul merupakan cermin dari segala tingkah laku
Rasulullah SAW yang harus diteladani. Dan ini adalah salah satu alat pendidikan
yang paling efektif dalam pembentukan pribadi muslim.
Menurut
Zuhairini dkk mengatakan bahwa metode atau pendekatan yang dipakai filsafat
pendidikan islam dalam memecahkan persoalan-persoalan pendidikan adalah: Metode
spekulatif dan kontemplatif, Pendekatan normatif, Pendekatan analisa konsep,
Pendekatan ilmiah, Pendekatan komprehensif dan terpadu.
Ruang lingkup
pemikiran filsafat pendidikan islam bukanlah mengenai hal-hal yang bersifat
teknis operasional pendidikan, melainkan menyangkut segala hal yang mendasari
serta yang mewarnai corak sistem pemikiran yang disebut “falsafa” itu.
DAFTAR
PUSTAKA
Aziz, abdul., M.Pd.I. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta:
TERAS
Jalaludin, Dr. & Said, Usman,
Drs. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada
Zuhairini, Dra., dkk. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi
Aksara
Hamdani Ihsan, H., Drs., & A.
Fuad Ihsan, H., Drs. 2007. Filsafat
Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia
Widodokembar.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar